May 8, 2016
Apr 15, 2016
Saya Hulyana Gatta. Saat ini saya bergiat di salah
satu lembaga non formal di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Yayasan Komunitas
Belajar Indonesia (YAKOBI). Lembaga ini bergerak di bidang pendidikan dan
lingkungan. Setahun terakhir saya aktif di berbagai kegiatan penyadartahuan
tentang perubahan iklim, peran hutan dan REDD+ (Reducing Emission from
Deforestation and Forest Degradation) di Kabupaten Berau dengan menyasar kepada
masyarakat di tingkat tapak.
Berawal sejak penghujung tahun 2014 saya bergabung di lembaga ini. Bekerjasama dengan RECOFTC, salah satu
lembaga pengembangan kehutanan sosial dari Thailand memfasilitasi kelompok
ibu-ibu PKK di 6 kampung di Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau. Dari sini saya mengawali karir di YAKOBI. Menyebarluaskan dan memberiakn penyadartahuan kepada masyarakat Berau agar dapat berperan dalam menghadapi perubahan iklim dan menumbuhkan pemahaman bagaimana hutan dapat berperan terhadap pengurangan dampak perubahan iklim. Disini saya bertindak sebagai fasilitator yang mencoba menggali, memberikan informasi dan belajar dari masyarakat.
Hal serupa pernah
juga dilakukan di 25 Sekolah Dasar di Kabupaten Berau untuk kalangan guru-guru
Sekolah Dasar. Pun hal serupa pernah dilakukan di kalangan masyarakat adat Lesan Dayak dan
kalangan ulama. Mengingat Kabupaten Berau memiliki potensi hutan dan sumberdaya
alam yang sangat kaya.
Keseluruhan dari kegiatan yang tersebut merupakan serangkaian aktifitas yang memberikan pengalaman dan pengetahuan yang luas bagi saya (tentunya) begitupun juga dengan komunitas yang disasar. Serta merupakan peluang untuk melaksanakan gerakan komunitas yang harapannya bisa menciptakan manfaat yang nyata bagi masyarakat banyak.
Terhitung sejak September 2015, saya yang tergabung di Community Builder Yakobi bekerjasama dengan lembaga internasional The Nature Conservancy atau yang akrab disapa TNC memfasilitasi salah satu kampung di Kabupaten Berau yakni Kampung Birang untuk mendorong kampung rendah emisi melalui pengembangan Kebun Rakyat dengan menggunakan pendekatan SIGAP REDD+ (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan. Selama setahun kedepan kami berharap bisa mengawal kampung Birang menjadi salah satu kampung yang kuat, maju, mandiri, demokratis dan sejahtera secara berkelanjutan. Aamiin.
Credit: Aku benci kau yang menghilang
Ya, kau datang merubah segalanya.
Namun caramu pergi, lebih merubah segalanya.
Aku ucapkan terimakasih karena kau pernah hadir di hidupku.
Layaknya anak kecil yang mempunyai sahabat karib, aku menganggapmu.
Kau baik hati, penyayang, sangat peduli, dan yang terpenting selalu mengerti diriku.
Dan aku? Terpaksa terpesona olehmu.
Bagai ada kacamata filter yang membuatmu seolah-oleh tanpa kekurangan.
Sempurna. Dan aku ingin berada di sisimu.
Ah, dongeng macam apa ini.
Bagai punuk merindukan bulan, namun bulan datang menghampiri.
Kau adalah yang aku inginkan.
Kita lalui hari bersama.
Berjalan-jalan, berfoto ceria, berburu kuliner asik, hingga berbagai tingkah konyol lainnya.
Namanya manusia, aku merasa nyaman dengan hadirmu.
Mungkin, kau bisa menjadi jawaban dari seribu pertanyaan dalam hidupku.
Berharap kau selalu ada. Tak pernah pergi.
Ah, kamu.
Aku berpikir betapa sempurna Tuhan mempertemukan kita.
Rasanya, berbagai hal yang pernah dilalui bersama tak ingin berlalu begitu saja.
Aku candu.
Candu itu bernama kamu.
Entah kau sadar atau tidak, aku ingin kita menjadi lebih dekat.
Ditambah dengan semua kenyamanan ini, aku ingin kita menjalin hubungan yang baik.
Tak muluk-muluk.
Jalannya waktu memang bagai roda yang berputar cepat, namun kala itu beda.
Aku merasa tergilas olehnya, oleh waktu.
Dan kamu, bekerjasama dengan sang waktu untuk tidak memberitahu bayanganmu.
Ya, kau menghilang.
Aku tak paham dengan semua ini.
Terlalu kaget saja. Bagaimana bisa. Mengapa.
Ah, pertanyaan dalam kepalaku sudah ribuan rasanya, oh tidak, jutaan rasanya.
Kuteriakkan namamu dalam keramaian manusia.
Bertanya sana dan sini.
Berusaha menahan peluh untuk sebuah jawaban.
Setelah capai oleh semuanya, aku menepi, duduk dibawah pohon.
Sendiri, emang mau dengan siapa lagi.
Menarik napas dalam-dalam, membuangnya perlahan. Hal itu yang kau ajarkan dulu ketika aku sedang sedih.
Ah, kutepis bayangmu.
Hingga kini, aku masih belum mengerti saja.
Dan teganya kau meninggalkanku ditengah jutaan harapan baik yang sudah kurencanakan.
Menghancurkan segala tiang kebahagiaan dalam sekejap.
Jangan kautanya bagaimana kondisi hatiku.
Parah.
Mengiklaskanmu memang berat.
Namun kau tahu apa yang terberat?
Adalah berusaha membuka hati untuk orang lain.
Aku tak bisa, setidaknya belum bisa. Sulit sekali rasanya.
Ini semua gara-gara kamu, ini semua salahmu. Itu cerita lama.
Sekarang, aku berusaha tidak menyalahkanmu.
Aku menyalahkan diriku sendiri yang terlampau bodoh.
Yang terlalu berharap padamu yang tak pasti.
Namun kau tahu, apa yang kusyukuri?
Aku belajar mulai mencintai diriku sendiri.
Terima kasih pernah datang, lalu pergi.
Terima kasih pernah ada, lalu tiada.
Terima kasih pernah menghibur, lalu kabur.
Terima kasih pernah meninggikan harap, lalu menjatuhkan.
Terima kasih pernah mendekat, lalu menjauh.
Terima kasih pernah peduli, lalu acuh.
Selamat tinggal, kamu.
Terima kasih telah meninggalkan luka, dari situ aku belajar untuk mengobati hatiku sendiri.
~Sekian~
Thanks to duniaislam telah mempertemukanku dengan kalimat seindah ini.
Sumber: Aku Benci Laki-Laki Seperti Badai, Datang dan Pergi Seenak Hati (http://duniaaislami.blogspot.co.id/2016/03/aku-benci-laki-laki-seperti-badai.html)
Apr 10, 2016
Hulyana 'Chigo' Gatta
Lahir sempurna di kota Arung Palakka
Anak ke enam dari tujuh bersaudara
Alumni Fakultas Kehutanan Universitas
Hasanuddin
Mengadu nasib sebagai ‘perantau’ di
Kabupaten Berau
Bercita-cita menjadi peneliti, padahal dulu
pernah bercita-cita menjadi dokter hewan
Kata orang lucu dan bersuara cempreng
padahal aslinya bersuara emas.
Bicycle holic
Suka kalap saat habis gajian
Pecinta pudding, jelly-jellyan dan
sejenisnya. Jago bikin juga.
Careless dan lupaable
Suka bercanda dan lucu-lucuan, tidak suka
yang terlalu serius
Suka usil tapi bullyable
Kata orang punya badan kecil mungil cocok
buat gantungan kunci
Labil dan kadang tidak konsisten
Punya supermom dan superdad yang penyayang
luar biasa dan pengen jadi kayak beliau
Pengen punya pendamping yang multifungsi
jadi sahabat, musuh, kakak, om, dan semuanya.
Oke sekian.
Generasi muda saat ini disebut-sebut sebagai
generasi gadget dan penuh omong
kosong. Hampir semua sisi kehidupan diprotes tapi tidak banyak yang mau
bergerak melakukan suatu perubahan. Miris, hampir dua puluh empat jam
dilewatkan begitu saja berselancar di dunia maya. Sikap apatis dan skeptis yang
kebanyakan mewarnai hidup anak muda modern saat ini. Namun disekeliling kita
juga banyak anak muda yang menginspirasi yang seolah-olah menegaskan bahwa tidak
semua anak muda mengacuhkan dunia. Ternyata anak muda dengan segala
kelebihannya mampu menggerakkan dunia.
Blake Ross, bagi pengguna browser Mozilla
Firefox tentu tahu bahwa web browser
global yang makin popular ini diciptakan oleh pemuda kelahiran 1985 ini. Atau
sebut saja Andrew Darwis, pemuda 35 tahun asal Indonesia ini berhasil membangun
KASKUS sebagai media informasi bagi orang Indonesia di luar negeri. Kedua anak
muda ini mampu membuka lapangan pekerjaan di negaranya masing-masing dan
memberikan kontribusi dengan memberdayakan banyak orang.
Pada kenyataannya ketika masih muda berbuat kebaikan untuk banyak orang tidaklah muda. Diperlukan keberanian, kesungguhan dan ketulusan untuk mewujudkannya. Ketiga hal ini sepaket dan tidak bisa dipisahkan. Sejalan ketika berbicara mengenai pemberdayaan. Pemberdayaan sebagaimana yang dikatakan oleh Parkinson, 1994, yang merupakan terjemahan dari empowerment menekankan bahwa orang yang diberdayakan semestinya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan kekuasaan untuk mempengaruhi kehidupannya.
Pada kenyataannya ketika masih muda berbuat kebaikan untuk banyak orang tidaklah muda. Diperlukan keberanian, kesungguhan dan ketulusan untuk mewujudkannya. Ketiga hal ini sepaket dan tidak bisa dipisahkan. Sejalan ketika berbicara mengenai pemberdayaan. Pemberdayaan sebagaimana yang dikatakan oleh Parkinson, 1994, yang merupakan terjemahan dari empowerment menekankan bahwa orang yang diberdayakan semestinya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan kekuasaan untuk mempengaruhi kehidupannya.
Pemberdayaan seharusnya merupakan gerakan bersama yang tumbuh dari, oleh
dan untuk masyarakat. Gerakan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak
terkecuali anak muda sebagai bagian dari masyarakat dengan berbagai macam “entry point” yang mungkin bisa
dilakukan. Pelestarian lingkungan hidup adalah salah satu langkah dasar yang
bisa dilakukan oleh anak muda yang dapat disinergikan dengan berbagai macam
kegiatan awareness mengenai
lingkungan khususnya isu-isu perubahan iklim yang sedang marak dibicarakan
dunia beberapa tahun terakhir. Kenapa penting membahas lingkungan? Karena
lingkungan adalah kita dan kita adalah lingkungan. Sampah, pengelolaan limbah,
kelangkaan air dan deforestasi adalah beberapa contoh dari sekian banyak permasalahan
lingkungan yang dihadapi dunia saat ini. Masalah-masalah lingkungan yang muncul
adalah akibat ulah manusia itu sendiri. Sehingga penting untuk menyentuh
manusianya untuk memberikan penyadartahuan tentang pentingnya menjaga
lingkungan. Berbagai inisiatif penyadartahuan dan peningkatan kapasitas untuk
meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan memberikan informasi mengenai
lingkungan kepada masyarakat bisa menjadi kontribusi anak muda kepada
masyarakat khususnya masyarakat tingkat tapak yang notabene memiliki
keterbatasan informasi dan pengetahuan. Disinilah anak muda seharusnya bisa turut mengambil andil bersama dengan
pemangku kepentingan kunci. Sebagai tongkat estafet bangsa, anak muda energik,
kreatif dan peduli memiliki tanggung jawab yang besar untuk berbagi kepada
sesama manusia untuk menciptakan perubahan sosial. Anak muda yang mau
memperkaya informasi dan banyak bertanya yang akan menjadi modal untuk
membangun bangsanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)